You’re the (Un)Lucky No.1

Bismillah..

Oke, hanya sekedar ingin berbagi kisah yang terjadi 2 hari ke belakang.
Mungkin ini adalah salah satu qadarallah yang harus saya terima. Mungkin sebagai teguran atau hukuman atau ujian bagi saya.
Siapa yang pernah kehilangan? 
Pernahkah kehilangan sesuatu yang sama 2 hari berturut-turut?

Ya, mungkin saya salah satu yang pernah mengalaminya..
Tepat 2 hari yang lalu yaitu hari Selasa saya pulang dengan menumpang alat transportasi massal bernama kereta. Saat itu stasiun pemberangkatan saya adalah Pasar Minggu. Kebetulan memang sebelumnya sempat ada keperluan di daerah Pasar Minggu. Waktu sekitar sehabis sholat Magrib. Kereta tujuan Bogor yang pertama kali akan tiba adalah kereta ekonomi. Kondisi saat itu memang cukup padat. Sebagian pasti bilang yang namanya kereta ekonomi ya pasti begitu. Ya, sebenarnya tidak sepadat yang dibayangkan. Kepadatannya sama saja dengan kereta Commuter Line, perbedaannya hanya terletak pada AC dan kipasnya saja. Hanya saja kebetulan saat itu memang cuaca sedang hujan, dan kereta Commuter Line tujuan Bogor ternyata sedikit terlambat. Alhasil lumayan banyak juga penumpang yang seharusnya naik CL (Commuter Line) ternyata ikut naik Eko (Ekonomi).

Sesampainya di stasiun Depok Baru kondisinya lumayan lengang. Dan, disanalah saya baru menyadari ada yang salah pada tas saya.
Olalala, apa ini, kenapa rasanya seperti ada sobekan. Saya cek dengan cara meraba-raba sekitaran tas, ternyata memang benar, sobekan disana-sini. Astaghfirullah… Saat itu saya belum berani mengecek isinya. Ada rasa khawatir pencopet masih ada di sekitar saya dan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya. Saya tidak bisa memastikan benda apa saja yang pada akhirnya hilang. Saya hanya menutupi tas dengan jaket begitu turun dari kereta dan sampai di stasiun pemberhentian saya: Stasiun Citayam.

Sesampainya di rumah baru ketahuan, ternyata tas saya memang rusak cukup parah. Tapi beruntung saat itu dompet tidak sampai hilang. Ternyata hanya HP nokia dual sim non kamera yang berhasil diambil. Sisanya mungkin barang-barang yang ada di kantung depan ikut terbawa seperti token milik suami saya. Dompet saat itu berada di sisi yang berlawanan dari arah perusakan tas. Sehingga mungkin si pencopet tidak berhasil mengambilnya.

Sekedar informasi, selama perjalanan tas selalu berada di depan saya, saya peluk menyilang. Tapi memang beberapa waktu pegangan terlepas karena harus menyesuaikan diri dengan kondisi sekitar agar tetap bisa berdiri dengan seimbang. Satu hal yang saya syukuri, tidak satupun diri saya yang terluka. Padahal kalau melihat kondisi tas, sepertinya benda yang digunakan sangat tajam. Karena tas saya lumayan banyak lapisannya, tapi ternyata sampai juga ke lapisan belakang.

Apakah saya belajar dari kesalahan?

Keesokan harinya, saya pulang seperti biasanya. Kali ini berangkat dari stasiun Kalibata, karena memang kantor paling dekat dengan stasiun ini. Saya pulang tidak sendiri, melainkan bersama suami. Suami saat itu menyusul dari St. Manggarai ke St. Kalibata.
Saya tidak naik Eko lagi, melainkan naik CL. Dompet, hape, saya letakkan di tempat yang lumayan sulit untuk dijangkau. Waktu itu saya pinjam tas adik yang kebetulan lumayan banyak kantong dan cukup tebal. Saya letakkan juga tempat makan di dalamnya, karena kemarin saya duga kegagalan pencopet mengambil dompet akibat terhalang oleh tempat makan dan Al-quran yang saya bawa. Seluruh resleting saya stel berada di tengah atas tepat di bawa dagu saya berarti. Tas saya hadapkan ke depan dengan kondisi dipeluk dan perhatian penuh pada tas.

Sebelum naik kereta, saya masih ingat betul dompet dan hape masih ada, karena memang masih digunakan untuk membeli makanan dan mengirim sms. Ketika kereta akan tiba, segera saya masukkan ke tempat yang menurut saya paling aman dan tidak mudah untuk diambil.

Saat itu kondisinya cuaca memang tidak bersahabat. Akibatnya terjadi gangguan sinyal di beberapa stasiun yang mengakibatkan keterlambatan. Ternyata pula, kereta ekonomi yang biasa dinaiki dibatalkan karena mengalami kerusakan. Alhasil, banyak penumpang Eko yang memaksa naik CL. 

Saat itu, saya dan suami memutuskan untuk tidak menaiki kereta CL tujuan Bogor yang pertama karena memang cukup penuh. Kereta selanjutnya datang tidak lama berselang. Namun, ternyata kondisinya sama saja. Dikarenakan kereta selanjutnya masih cukup lama, kamipun memutuskan untuk menaiki kereta ini saja. 

Kondisi di dalam kereta sangat padat. Sama padatnya dengan kereta yang kemarin dinaiki. Mungkin karena adanya keterlambatan tadi makanya kereta jadi lebih penuh. Saya yang awalnya berada di belakang suami pun terdorong hingga menjauh dari suami. 

 Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya merasakan pusing dan kantuk yang teramat sangat. Saya sendiri merasa heran, karena seletih bagaimanapun saya tidak pernah merasa separah kemarin. Untungnya saat itu padat, sehingga saya tidak terjatuh karena memang terhimpit di sana sini. Tangan sayapun terasa cukup kaku. Awalnya saya mengira karena terhimpit sehingga terasa ada keram. 

Turun dari kereta saya masih tidak menyadari, bahkan hingga sampai ke rumah. Baru ditengah malam, karena terbangun dan ingin men-charge hape, maka saya ambil tas dan mulai bongkar-bongkar. Kaget. Kok dompet saya tidak ada ya.. Padahal saya yakin meletakkannya di dalam tas saya. Di dalam tas ada tas pelindung untuk laptop. Dompet saya letakkan di dalam tas laptop tersebut dengan harapan tidak mudah untuk diambil. 
Saya cari hape, kok tidak ada juga ya…

Waduh…..
Ternyata positif saya kecopetan untuk yang kedua kalinya… Innalillah….
Entah kenapa dugaan langsung ke arah penghipnotisan. Terkait rasa kantuk dan pusing secara mendadak yang saya alami. Apalagi setelah diingat-ingat, waktu di st. Depok, ada seorang bapak-bapak yang secara tiba-tiba merangsek turun. Padahal sebelumnya ada di sebelah saya. Kalau memang dia mau turun, kenapa tidak dari awal sudah mempersiapkan diri, baru ketika kereta akan berangkat tiba-tiba ingin turun. Saat itu saya justru curiga kalau yang kecopetan adalah ibu-ibu yang ada di dekat saya juga. Tapi ternyata qadarallahnya lain. Justru sayalah korbannya. Terkait rasa sesak dan terhimpit, besar kemungkinan pelaku tidak hanya satu, melainkan beberapa orang yang sengaja menghimpit saya…

Langsung pagi ini saya urus semua-semuanya, mulai dari ke polisi untuk mengurus surat kehilangan juga ke bank untuk mengganti ATM yang hilang.

 

 

Advertisements

4 thoughts on “You’re the (Un)Lucky No.1

    • ichanastasia says:

      Amminnnn Mbak…. Semoga Allah mendengar do’amu… =D

      Atau anak Mbak XP

      On Fri, Feb 8, 2013 at 11:57 AM, ichanastasia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s