Ahlan wa Sahlan Baby Boy

Melahirkan di Stasiun?
Oleh : Annisa Anastasia

image

“Allah Maha Penyayang.. Sayangnya tak terbilang…
Allah Maha Pengasih… Tak pernah pilih kasih…
Allah yang Maha Tahu.. Tanpa diberi tahu…
Allah… Allah… Lailahaillallah…”

Itu sebait lagu anak-anak yang telah dimodifikasi liriknya, dengan nada asli menggunakan lagu anak-anak berjudul BECAK. Lirik yang mengingatkanku pada proses kehamilan hingga persalinan seorang anak lelaki yang kemudian diberi nama MUHAMMAD FARZAN ALGORISMI.

Allah Maha Penyayang
Delapan belas bulan usia pernikahan, aku menunggu sang buah hati. Sempat rasa galau dan risau menghampiri manakala teman-teman lain yang menikah setelahku, justru sudah Allah karuniakan anak lebih cepat. Puncaknya ketika awal tahun 2014, tiba-tiba saja aku menangis justru ketika seorang karibku bergembira, mengabarkan ia tengah hamil muda. Beruntung, suamiku menenangkan, menghibur, dan mengajak untuk berpasrah.

Di penghujung bulan Januari, ada yang tak biasa. Haidhku telat hamper dua minggu lamanya. Namun aku takut terlalu berharap, sengaja tak segera kulakukan tes kehamilan. Tiba-tiba datang kabar bahwa para guru yang akan melanjutkan mengajar di tahun ajaran depan harus segera membuat surat komitmen paling lambat bulan Maret 2013. Kala itu aku masih aktif mengajar di sebuah SD swasta di Depok. Hal inilah yang membuatku langsung melakukan tes kehamilan. Rencanaku adalah, bila benar hamil, aku akan resign. Bila tidak, aku akan melanjutkan profesi ini. Selepas mengajar, sebungkus alat pengecek kehamilan sudah di tanganku.

Allah tunjukkan kasih sayangnya. Test pack menunjukkan garisnya yang dua, meski samar salah satunya. Kusampaikan kabar gembira itu pada suamiku, hilang sudah rasa risauku sejenak perkara buah hati. Kami segera ke dokter kandungan memastikan bahwa benar aku hamil. Awalnya, kehamilanku tak terdeteksi melalui pengecekan USG di perut. Setelah melakukan USG transvaginal barulah terlihat adanya titik kehidupan di sana, terdengar pula suara jantung yang berdetak. Delapan minggu sudah usia kehamilanku kala itu. Alhamdulillah Ya Rabbana…

Sejak awal kehamilan, Alhamdulillah tidak terlalu banyak kendala yang aku hadapi. Hanya mual-mual normal di trisemester pertama. Menginjak usia empat bulan kandungan nafsu makanku sudah membaik. Aktivitas belajar mengajar pun masih bisa kulalui dengan baik sama seperti sebelum hamil. Bahkan aku masih sempat untuk ikut wara-wiri membantu proses penyelesaian studi ayah dari calon anakku.

Aku bertekad, sebelum melahirkan, segala urusan yang belum tertunaikan harus segera selesai. Salah satu urusan terbesar kala itu adalah proses penyelesaian tugas akhir studi S1 suamiku. Yupss, meski sudah menikah hampir 1,5 tahun dan sedang menjadi calon ayah, suamiku memang belum sempat menyelesaikan studinya. Bila diingatkan, adaaa saja kendalanya :-D. Padahal saat itu hanya tinggal menulis skripsi saja. Maklum, pak suami ini agak idealis. Tidak mau mengerjakan tugas akhir kalau hanya sekedar lulus.

Kebetulan waktunya saat itu serba mepet, hingga akhirnya aku dan si jabang bayi ikut turun tangan. Mepet karena sebentar lagi akan lahiran (HPL bulan September), mepet pergantian tahun ajaran baru yang artinya tambahan biaya semesteran (lebih baik untuk biaya melahirkan kan? :-D), juga mepet jatah semester sebelum mahasiswa di drop out. Iyah, sudah 12 semester. Hehehe…

Allah Maha Pengasih
Alhamdulillah, Allah memang tidak pilih kasih. Beruntung, ternyata kampus saat itu sedang ada program ‘bersih-bersih’ mahasiswa lama =D. Ada sekitar 12 orang yang satu angkatan sama-sama berjuang menyelesaikan tugas akhir ini. Seminar dilakukan serentak, sidang ditentukan jadwalnya, proses koreksi dan revisi dipersingkat waktunya.

Aku pun turut serta. Rasanya seperti sedang ikut skripsian lagi. Dosen pembimbingnya aku yang hubungi baik via email, fb maupun sms. Segala jadwal akademik aku yang cari informasi, termasuk berkas-berkas aku yang ambilkan langsung ke Bogor, padahal kondisi sedang hamil tua. Kondisi suami yang bekerja tidak mungkin izin setiap hari. Seminar, sidang, bimbingan dengan dosen pun selalu ikut menemani. Dan, berakhir bahagia ketika hampir seluruh mahasiswa terakhir dari angkatan ini dapat cap lulus hanya beberapa hari sebelum jatuh tempo pembayaran semester baru. Alhamdulillah, legaaa…… 😀

Ada satu kejadian tidak terlupakan dari proses ini. Kala itu aku pergi seorang diri Depok – IPB Dramaga pulang pergi. Naik kereta dan angkot. Usia kehamilan 34 minggu dengan posisi janin sudah diketahui sungsang. Berangkat pagi, pulang setelah Ashar. Lupa bahwa kondisi sedang hamil tua, tapi begitu semangat untuk bolak-balik departemen, rektorat, dan perpustakaan kampus demi menyelesaikan satu urusan ini. Minta cap, print sana-sini, cetak CD, serta menyerahkan skripsi. Alhamdulilah selesai juga hari itu.

Saat di angkot pulang, tiba-tiba perutku terasa nyeri. Di bawa berjalan justru semakin nyeri. Perutku dipegang terasa tegang dan keras. Sempat aku istirahat sebentar di masjid dekat terminal, tapi ternyata nyerinya tetap timbul tenggelam meski lumayan mereda. Mengingat hari sudah sore dan mulai gerimis, aku paksakan diri melanjutkan perjalanan sampai ke stasiun Bogor. Di atas kereta, nyeri yang timbul tenggelam masih terasa. Aku coba mengatur nafas, bekal dari senam hamil selama ini, Alhamdulillah terasa sangat membantu. Yuk, ibu-ibu yang rajin senam hamilnya =D

Namun, begitu turun di stasiun Citayam, rasa nyerinya justru semakin hebat. Aku bahkan tidak bisa lagi berdiri tegak. Aku berjalan sambil menunduk seperti nenek-nenek. Saat itu hujan sudah turun deras, adzan Magrib sudah terdengar. Tujuanku saat itu cuma satu, mushola yang ada di ujung stasiun.

Sayangnya aku hanya mampu berjalan separuhnya. Aku butuh duduk selonjor di lantai, bukan di kursi tunggu penumpang di pinggir rel. Tapi di mana? Mushola masih jauh, sedang rasa nyeri ini sudah sangat tidak bisa kutahan. Aku sempat berfikir jangan-jangan aku sedang mulas-mulas mau melahirkan. Ya Allah, belum siap rasanya waktu itu. Aku sendirian. Suami masih di jalan pulang di atas kereta. (Iya, kami janjian pulang di stasiun Citayam). Mau mengabari mama malah takut dimarahi gara-gara aku ke Bogor sendirian kondisi hamil tua. Mau bilang ke orang-orang sekitar tapi kok ya malu rasanya. Pikiran utamaku adalah posisi bayiku masih sungsang! Bagaimana ceritanya aku melahirkan normal tapi bayi sungsang? Ahh.. bayanganku melantur ke mana-mana…

Akhirnya aku putuskan untuk duduk dekat loket. Selonjoran. Tak peduli lantainya becek terkena cipratan hujan. Bersama penumpang lain yang sedang jongkok menunggu hujan reda. Sepertinya orang-orang di sekelilingku ini tidak sadar kalau ada ibu hamil, sedang kontraksi, di tengah-tengah stasiun, seorang diri pula. Mungkin karena pakai gamis dan jilbab lebar, plus badan memang gemuk, alhasil tidak terlihat sedang hamil. :-D. Aku mencoba mengatur nafas, sambil sesekali bertanya dan berkabar dengan teman-teman di grup whatsapp. Syukurr sekali rasanya, jadi tidak sendirian. Malah mereka yang khawatir, sembari ikut mencari opsi terbaik apa kiranya membawa ibu hamil yang satu ini menuju klinik/RS terdekat jika kondisi darurat.

Waktu magrib semakin sempit. Rasa nyeri lambat laun mereda. Aku sudah bisa berdiri tegak kembali. Akupun berjalan menuju mushola stasiun. Tak lama kemudian suami berkabar sudah sampai di stasiun yang sama. Alhamdulillah..

Allah Maha Tahu
Ternyata aku belum ditakdirkan melahirkan hari itu. Nyeri yang aku rasakan kala itu hanyalah kontraksi palsu. Rasa nyeri dan mulas namun bisa mereda sejenak bila kita ubah posisi badan. Ritme kontraksi palsu tidak beraturan, tidak seperti kontraksi asli yang teratur datangnya dan tidak mudah hilang meski berubah posisi. Rasa mulas yang aku rasakan untuk pertama dan terakhir kalinya selama masa kehamilanku.

Hingga usia 38 minggu, janinku tetap pada kondisinya yang sungsang. Kepalanya dekat dengan diagfragma, sedang bagian bokong ada di bagiah bawah dekat vagina. Ternyata kondisi inilah yang membuatku tidak pernah lagi merasa mulas hingga waktunya melahirkan.

***

Sejak mengetahui posisi bayi yang sungsang, beberapa ikhtiar aku dan suamiku lakukan. Salah satunya adalah mendatangi dokter kandungan rekomendasi dari bidan Erie Marjoko (tempatku biasa senam hamil). Dr. Riyana Kadarsari, SpOg namanya, prakteknya di RSIA Hermina Ciputat.

Jauh. Jauh kalau dihitung dari rumahku di Citayam. Tapi demi ikhtiar agar normal, berangkatlah kami pagi-pagi sekali. Ternyata kami pasien yang pertama mendaftar ulang untuk antrian dr. Riyana. Di dokter inilah segala kegalauanku tentang operasi sesar musnah. Tak dipungkiri, sejak tahu kondisi bayi sungsang, membayangkan diri akan melahirkan dengan cara operasi adalah sesuatu yang sulit untuk aku terima.

Dr. Riyana memberikan pencerahan dan penjelasan dengan sangat baik. Sungguh sabar dokter ini mengedukasi pasiennya. Beliau ingatkan, bukan cara melahirkannya yang utama, tapi setelahnya apakah ibu dan keluarga berjuang pula untuk memberikan ASI ekslusif untuk anaknya? Beliau sampaikan, bukan angka operasi yang meningkat, melainkan angka kematian ibu dan bayi yang menurun. Beliau jelaskan, bukan sekedar bermudah-mudahan untuk melakukan operasi, melainkan memilih secara sadar dan penuh pertimbangan dengan prioritas utama adalah ibu dan bayi selamat.

Bersama dr. Riyana dilakukan proses pemutaran janin dari luar. Aku lupa istilah medisnya apa, tapi ini legal. Jadi mirip seperti ke tukang pijat, bedanya ini dokter kandungan yang melakukan, ada ilmunya, dan sambil dicek kondisi janin melalui USG. Perutku ditekan dan diputar dengan harapan posisi kepala mengarah ke jalan lahir. Baru separuh jalan, saat itu posisi kepala ada di kiri, posisi jam 3, perutku menegang. Dr Riyana sampaikan bahwa ini namanya kontraksi, kondisi ketika perut menegang dan tidak lembut ketika ditekan. Meskipun tanpa rasa nyeri tetap disebut kontraksi. Beliau tidak menyarankan untuk melanjutkan proses. Dicek melalui USG ada dugaan terhalang bantalan plasenta serta tali pusar yang melintang di sekitar leher. Hal inilah yang membedakan dengan tukang urut biasa. Banyak kejadian setelah diurut oleh tukang urut justru janin mati dalam kandungan, karena tidak terlihat secara kasat mata.

Dr Riyana juga mengajarkan knee-chest position, yaitu posisi sujud yang benar untuk kondisi kehamilan yang sungsang. Beliau menyampaikan, posisi sujud pada dasarnya adalah menjaga janin jangan sampai turun ke jalan lahir sebelum posisinya mapan. Justru ketika posisi janin sudah mapan, beliau tidak menyarankan untuk melakukan sujud knee chest position ini, karena akan membuat janin menjauhi jalan lahir. Banyak lagi pencerahan yang beliau sampaikan, 45 menit waktu konsultasi jadi tak terasa.

Ada keinginan anak kedua bisa dilahirkan ditemani oleh beliau. Terlebih beliau salah satu dokter kandungan yang pernah menangani VBAC (Vaginal Birth After Caesarian), melahirkan normal setelah sebelumnya lewat operasi.

Hingga akhirnya, aku pun legowo untuk dioperasi. Ditetapkanlah tanggal. Aku dan suami mulai fokus mengurus berkas-berkas BPJS. Ya, karena janinku masih sungsang, dokter kandunganku menyarankan untuk segera urus berkas. Beruntung rumah sakit di sana pelayanannya bagus, tidak membeda-bedakan pasien BPJS dan non BPJS dari sisi pelayanan.

Allah Maha Tahu, aku dan suami bahkan ibuku sama-sama tipe orang yang mudah panik. Dengan Allah takdirkan janinku sungsang, aku merasa lebih siap menghadapi proses kelahiran yang tidak mendadak melainkan terjadwal. Aku bisa merencanakan kapan harus berangkat ke rumah sakit. Aku masih sempat melakukan recheck segala perlengkapan persalinan. Padahal, qadarullah, H-3 jadwalku operasi ibuku malah kecelakaan motor, jadi selama aku di rumah sakit, ibuku tidak bisa ikut menemani. Alhamdulillah karena sudah menyiapkan sebelum jadwalnya, aku dan suami jadi lebih siap.

Dan pada Rabu, 17 September 2014, 10.07
Lahirlah seorang anak lelaki dengan selamat,
Muhammad Farzan Algorismi
dengan panjang 47cm dan berat 3,1kg
Di Rumah Sakit Hasana Graha Afiah

****

Tidak cukup sampai di sana. Banyak hal yang Allah tunjukkan pada kami, terutama banyaknya bantuan dari teman-teman di sekitar yang tiba-tiba saja datang. Ada yang baik hati menemaniku hingga sore, bergantian jaga dengan suamiku, sehingga suamiku masih bisa beristirahat (big thanks to Inggit and Devi). Karena aku dan suami tidak punya keluarga dekat di sini, cuma ibuku yang justru sedang butuh istirahat setelah terserempet mobil jadi tidak bisa ikut membantu di RS. Ada yang membantu mengurus berkas BPJS untuk bayi baru lahir. Bahkan ada yang tiba-tiba menawarkan mobil dan siap mengantar sampai ke rumah setelah selasai di rumah sakit. Memang tangan Allah ada di mana-mana. Rasanya kalau difikirkan sebelumnya, sama sekali tidak ada bayangan akan datang bantuan-bantuan tidak terduga semacam itu dengan kondisi kami saat itu.

Yakinlah Allah tidak akan menelantarkan hamba-hambaNya yang berdo’a

*** 
Citayam, 7 september 2015
03.56

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s