Mari Kita Bicara, Cinta (Part 3)

“Anakku menangis, terisak-isak, tersedu-sedu. Haruskah kubiarkan, atau kuberikan sesuai permintaannya?”

begitu tanyaku pada sebuah grup komunitas para ibu. Berharap dengan menumpahkan segala rasa bisa memberikan sedikit solusi. “Biarin aja Mba, biasanya enggak akan lama. Harus ditegain memang, sabar aja nanti lama-lama terbiasa,” begitu katanya. Kutahan-tahan emosiku, supaya aku tetap tenang, tidak marah, tidak berteriak, tidak menyerah.

Malam kedua, ketiga, keempat, terlewati. Masih dengan jeritan dan tangisan, namun frekuensi dan durasinya mulai berkurang. Sepertinya ia mulai menyerah. Menyadari bahwa keputusan menyapih sudah bulat untuknya. Sang ayah sementara waktu masih menjadi teman tidurnya. Kami tidur terpisah selama proses penyapihan ini.

Perjuangan dan usaha untuk menyapih tidak hanya dilakukan ketika malam hari. Di siang hari, ikhtiar yang aku lakukan adalah melakukan pendekatan lebih kepada putraku. Kebetulan ketika itu aku belum mulai lagi berjualan online, sehingga aku bisa fokus untuk masa penyapihan ini. Aku mengajaknya bermain mulai dari pagi hingga sore hari. Bukan hanya satu, tapi bahkan bisa lima kegiatan sekaligus tanpa jeda. Aku benar-benar fokus menemaninya. Membaca buku, membuat balon sabun, berjalan-jalan ke luar sekitar rumah, mendengarkannya bercerita soal ini dan itu, melompat-lompat, dan masih banyak yang lainnya. Tujuannya adalah agar putraku tahu, tidak menyusu lagi bukan berarti aku tidak menyayanginya. Aku tetap sayang, aku tetap ada untuknya.

Saran dari seorang teman ketika proses menyapih, jangan ragu-ragu untuk mengobral kata-kata sayang. Berulang-ulang aku katakan pada putraku, “Bunda sayang sama Farzan. Farzan anak baik. Farzan hebat. Enggak mimik lagi bukan karena Bunda marah ya. Tapi Bunda malu kalau kelihatan sama Farzan. Kan Farzan sudah besar sekarang.” Sambil berkata demikian sambil kuciumi, kupeluk, dan kugendong lebih sering dari biasanya.

Kurang lebih setelah satu minggu, tidak ada lagi tangisan, jeritan, isakan penuh iba meminta ASI ketika menjelang tidur malam. Untuk menyusui di siang hari, pernah beberapa kali aku tawari putraku menyusu supaya ia bisa tidur siang sebentar saja.

Sepertinya proses penyapihan ini sudah selesai. Kegiatan menyusui berhenti total baik malam dan siang hari kira-kira di minggu kedua sejak proses penyapihan pertama kali. Pada awalnya kusangka akan memakan waktu dalam hitungan bulan, nyatanya hanya sekitar seminggu proses penuh drama kami lalui.                                                    .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s