#28.18>Punya Berapa?

Salah satu topik hangat di sebuah grup komunitas para ibu malam ini adalah soal outfit khususnya fashion wanita. Mulai dari jilbab sampai gamis, sebut merk A sampai Z, dirinci bahan maxmara sampai bubble pop.

Lalu apa saya paham? Sayangnya tidak. Cuma jadi penyimak, penonton diam-diam. Hanya beberap brand yang cukup familiar di telinga saya, selebihnya tak kenal.

Mungkinkah karena sejak kecil saya tidak begitu tertarik soal fashion? Saya masih ingat, seringkali perang urat syaraf dengan ibu sendiri soal pilihan baju atau sepatu. Saya seringnya merasa tidak ada yang salah dengan pilihan saya, ketika menurut ibu saya pilihan saya itu kuno, emak-emak banget, bukan khas anak muda. Hmm kalau tidak salah sering adu argumen ini sejak usia SMP.

Saya juga sering merasa tidak butuh beli banyak baju, tas, atau sepatu. Prinsip yang sampai sekarang masih terbawa adalah : kalau satu saja cukup, kenapa harus beli 2,3,4 dst? Kalau yang ada saja masih bisa dipakai, kenapa harus banyak-banyak beli?

Biasanya, lebih sering saya yang kalah. Bukan mengalah. Dulu pikir saya, uang yang ada sayang kalau habis hanya untuk beli-beli hal yang buat saya tidak urgent. Mungkin antara hemat dan pelit jadi beda-beda tipis ya. Tapi saya pribadi merasa mubazir jika terlalu sering membeli baju.

Tapi tidak begitu dengan ibu saya. Saya kalah, karena pada kenyataannya memang uang yang dipakai bukan uang pribadi saya. Nyatanya meski saya menolak, seringnya tetap akan terbeli juga barang-barang itu.

Balik lagi ke topik bahasan grup tadi. Saya masih tidak habis pikir dengan orang-orang yang senang mengoleksi baju, jilbab, ataupun sepatu. Apakah memang semua yang dipunya itu dipakai? Ataukah lebih sering jadi hiasan lemari?

Edisi berbaik sangkanya adalah, mungkin setelah beberapa waktu, sebagian barang yang dimiliki mereka sumbangkan. Alhamdulillah jika memang seperti ini kondisinya.

Tapi bagi saya pribadi, saya tidak begitu peduli soal brand. Buat saya asalkan harganya cukup murah, apapun brandnya, tak jadi soal. Toh saya selama ini cuma di rumah. Tidak butuh ‘kostum panggung’ untuk waktu dan tempat tertentu.

Sederhana saja. 
Begitulah saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s