#29.19 Aji Mumpung?

Seperti diskusi dengan suami 2 hari yang lalu, hari ini sesuai rencana, kami tidak lagi membagikan takjil di pinggir-pinggir jalan raya. Kami mampir ke salah satu masjid di pinggir jalan yang cukup dekat jaraknya dari rumah.

Beberapa menit sebelum Adzan Maghrib berkumandang, saya meletakkan beberapa bungkus makanan yang sudah dibeli sebelumnya di meja yang disedikan. 

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya sajian yang ada di meja ludes oleh orang-orang yang singgah untuk membatalkan puasa mereka di hari itu. Alhamdulillah sesuai seperti harapan saya dan suami, tepat sasaran untuk mereka yang benar-benar berbuka.

Selepas berbuka, saya dan suami Sholat Magrib sebentar sebelum melanjutkan lagi perjalanan. Selesai Sholat, ada sedikit kejadian yang cukup menyita perhatian saya.

Posisi saya masih di dalam masjid, baru saja selesai sholat dan masih dalam keadaan berzikir. Tiba-tiba ada seorang ibu masuk dengan membawa kantong plastik besar serta 1 dus nasi kotak yang sepertinya disediakan oleh masjid/donatur di mesjid itu.

Sayup-sayup saya mendengar ibu ini seakan bicara yang ditujukan untuk saya. 

Duh ribet ini pakai dus. Dipindah aja nanti makan di rumah,” begitu katanya sambil memindahkan isi nasi kotak ke dalam tempat makan yang sudah dia bawa sendiri. 

Awalnya saya tidak begitu memperhatikan. Pikir saya, ya biar saja kalau memang tidak ingin langsung di makan saat ini juga. Meski agak heran juga sepertinya si ibu sudah persiapan sekali dengan membawa kotak makan dari rumah.

Hingga kemudian saya keluar dari masjid, mulanya hendak ikut mengambil 1 dus tapi kemudian urung. Biarlah buat yang lain yang lebih butuh. Saya lihat ada beberapa orang ibu dan anak-anaknya sedang makan di pinggir masjid. Dari tampilannya sepertinya mereka kaum dhuafa.

Alhamdulillah, berkah Ramadhan membuat siapapun bisa berbagi dengan lebih mudah. Dan mereka yang membutuhkan mendapatkan pula rezekinya. 

Namun apa kemudian? Tiba-tiba saya melihat lagi ibu yang tadi saya temui di dalam sedang memegang dus nasi kotak yang  Ibu itu hilir mudik mampaknya sedang mencari tempat yang pas. Saya iseng memperhatikan, ternyata dugaan saya benar, terlihat ibu itu kembali memindahkan isi nasi kotak ke dalam plastik yang dia bawa.

Astagfirullah, jujur saja, muncul pikiran negatif dalam diri saya ketika itu. Jangan-jangan plastik hitam besar yang sedang dia bawa itu semuanya berisi nasi dus yang dipindahkan? Terlihat plastiknya besar dan berat. 

Buat apa? Aji mumpung kah? Mumpung banyak yang sukarela berbagi, kemudian dijadikan ajang untuk mengambil keuntungan lebih? Pikiran jelek kembali muncul di kepala saya.

Tapi kemudian suami saya mengingatkan, biarkanlah. Tidak perlu kita pikirkan dan berburuk sangka.

Kemudian saya pikir kembali, dan berharap, semoga saja niat ibu itu baik. Mungkin saja dia sengaja menbawa cukup banyak makanan untuk kemudian dibagikan pada tetangga-tetangganya yang butuh namun tidak bisa datang langsung ke masjid. Biarlah jadi pelajaran untuk diri saya pribadi agar bisa memberi lebih banyak ketimbang meminta lebih banyak.

Semoga di sisa Ramadhan kali ini lebij banyak lagi yang bisa saya bagi.

Amin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s