Sekolah Farzan

Ada notif masuk,
dari fanpage sekolah Farzan tahun ajaran ini.

Farzan sih belum diputuskan kelak akan masuk SD apa, negeri?swasta?sdit?sekolah alam?

Untuk saat ini, memilihkan TKnya saja dahulu. Semoga saja cocok dengan karakter Farzan.

Urusan SD, tergantung seperti apa nantinya dia menjalani masa taman kanak2nya.

Liat-liat profilenya, foto-foto kegiatan sekolahnya malah bikin flashback waktu saya SD dulu di Sdit Al-Qalam. Meski bukan sekolah alam, meskipun dulu saya ini angkatan paling pertama yang murid perempuan dan laki-lakinya cuma 8 orang masing2nya, banyak hal justru jadi pembuka jalan kehidupan saya sekarang. Saya baru sadar aktivitas saya dulu bisa dibilang kalau jaman sekarang kehitungnya wow.

Dulu tuh, outbond udah jadi rutinitas. Naik turun pakai tali dari lantai 2 ke lantai bawah. Kemping, mencari jejak masuk ke hutan, flying fox, meniti tali. Padahal bukan sekolah alam.

Buku-buku yg jaman sekarang harganya jut2n dan masuk jajaran buku premium, sebut aja WWP, itu udah saya baca duluan di perpustakaan sekolah. Megang komputer pertama kali, ngerti ngetik padahal dulu masih tahun kepala 199x, belum jadi 2000.

Metode hafalan dan cara baca quran juga saya masih inget bener deh. Dulu ada mata pelajaran tilawah, tugasnya disuruh mencari kata tertentu di dalam Alquran, lalu salin ayatnya kalau udah ketemu. Seringnya pas dicari susah dapetnya, giliran udah ganti kata, malah kata itu muncul terus ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ˜‚.

Kalau hafalan, rata2 juz 30 itu udah lewat semua, udah banyak yang lanjut sampai juz 26 bahkan. Padahal bukan pesantren, pun gak ditarget apa2 dari sekolah. Ngebandingin sama sekolah jaman sekarang yg mengklaim sekolah Islam, tapi cuma bisa nargetin hafalan murid 6 tahun juz 30 aja. (Nulis ini bikin hfffff sendiri, merasa bersalah cuma pernah menghafal tapi menguap entah ke mana ๐Ÿ˜ญ, kuingin ikut tahfiz lagi rasanya kaya waktu di Depok ada tahfiz tapi di daycare. Jadi emak bisa konsen belajar, anak tetep ada yg nemenin)

Kalau yang lain baru kenal ESQ dsb mungkin waktu kuliah, itu dari jaman bocah udah biasa diajakin bermuhasabah, nontonin video perjuangan para mujahid2, (kalau sekarang gatau masih gak ya, kayanya malah dikira menampilkan kekerasan pada anak ๐Ÿ˜…)

Yah pokoknya dari sana sampai seterusnya secara gak langsung jadi kefilter sendiri pertemanan saya. Bahkan sampai sekarang :’)

Saya gak tau masanya Farzan ke depan akan seperti apa. Dulu saya kenal HP cuma tau game snake lewat HP temen. Sekarang Farzan udah kenal youtube, minecraft, soda crush, (ini mah emaknya duluan๐Ÿ˜‚)

Semoga Allah kasih waktu, kasih kesadaran buat saya dan suami selalu, kalau anak kami sudah berbeda zaman, perjuangannya jauh lebih berat: cyber bullying, narkoba, mental depression, sex bebas, etc.

Bogor,
01:39 17 april 2019

**
Nanti pagi pemilu serentak di Indonesia.
Sambil mandangin anak yang lagi fase kambuh asmanya. Dan meratapi kondisi gabisa tidur ๐Ÿ™ˆ

 

Denyut Kehidupan

๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ
When all of your life being a mother is the best thing, so the best moment is while the very first time was coming to you.

ย 20181223_013049_0001.png
.
24 Januari 2014. Sejak entah untuk kali yang kesekian, sebuah penantian panjang yang menguras emosi, harapan yang pupus tiap kali purnama tiba, hingga senyum kesabaran yang perlahan berubah wujud menjadi sendu,
.
24 Januari 2014, sebuah benda mungil menampakkan indikatornya samar-samar, untuk pertama kalinya: garis dua yang dinanti
.
24 Januari 2014, memusnahkan segala keraguan dua kali periode revolusi bumi, soal kapasitas diri bereproduksi.
.
24 Januari 2014, menjadi awal yang mengubah total kehidupanku lima tahun terakhir. Mengarungi perjalanan panjang yang masih aku lakoni hingga detik ini : being a mother.
.
Selamat berjuang menjalani peran yang tiada masa bakti. Selamat mensyukuri hari-hari bersama buah hati. Meski tiada mudah dilalui, ingatlah ketika buncah emosi bahagia menyelimuti diri kita tatkala untuk pertama kalinya engkau sadari, ada denyut kehidupan bergantung pada rahimmu.
๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ
.

#22.12 Kapan Rencana Hamil?

Beberapa waktu terakhir, topik yang sedang hot di kalangan grup ibu-ibu yang saya ikuti adalah soal kehamilan. Bukan sembarang kehamilan, tapi kehamilan kedua. Yups, ibu-ibu itu yang anak pertamanya seangkatan dengan Farzan, sebagian besar sudah dikaruniai kehamilan yang kedua. Bahkan beberapa ada yang sudah melahirkan.

Sempat suatu waktu, setelah berbincang dengan salah seorang teman yang baru melahirkan anak kedua, saya disodori pertanyaan,ย “Bagaimana rencana kehamilan selanjutnya?”

Hmm… Jujur saja, ketika pertanyaan tersebut mampir di saat ini, jawaban saya kira-kira begini, “Belum diniatin sih, direncanakan pakai program-program hamil gitu enggak. Tapi sejak awal selesai nifas sampai sekarang memang tidak pasang KB juga.”

Tahun lalu, sempat ada euforia dari dalam diri sendiri ingin hamil lagi. Ingin dipersiapkan yang pakai program-program. Apalagi waktu itu satu persatu kawan mengumumkan kabar kehamilan yang kedua. Pikiran saya di kala itu, toh jarak dekat atau jarak berjauhan, sepertinya kerepotannya akan sama saja. Malah sepertinya jika jaraknya berdekatan, metode mengasuhnya hampir sama. Karena masih sama-sama balita. Seandainya berjarak lumayan jauh, mungkin akan lebih repot ketika memikirkan bagaiman berkomunikasi dengan anak usia sekolah dan bayi sekaligus.

Tapi, makin ke sini, bukannya makin mantap, malah cenderung makin ragu jika memang Allah berkehendak saya harus hamil lagi dalam waktu dekat, di usia Farzan menjelang tiga tahun. Rasanya melihat Farzan yang sungguh amat sangat aktif, masih butuh perhatian dari saya dan ayahnya, saya jadi tidak rela berbagi. Terlebih ada perasaan dalam diri saya kalau saya dan suami masih belum sepenuhnya bisa melepaskan ego kepentingan pribadi di atas kepentingan anak. Kadang kami masih asik sendiri dengan kegiatan dan kepentingan kami masing-masing. Seringnya Farzan jadi dinomorduakan.

Saya pun merasa belum bisa memberikan waktu dan pikiran saya secara penuh. Saya masih merasa lebih asik untuk sibuk dalam dunia saya sendiri ketimbang berlama-lama bermain dan menemani Farzan serta mengurusi segala kebutuhannya.

Saya pikir, sebelum akhirnya Allah menitipkan amanah yang kedua, saya dan suami perlu untuk menyiapkan diri lebih. Supaya bukan Farzan yang jadi korbannya. Jadi jika dibilang sengaja menunda sepertinya tidak juga ya. Saya ย tidak menggunakan KB, berhubungan aktif, dan dalam keadaan sehat, namun rahim saya memang belum dititipi amanah lagi. Jika hingga saat ini saya belum lagi hamil mungkin Allah yang lebih paham mana yang terbaik buat kami. Karena buat saya pribadi, ini bukan sekedar banyak anak banyak rezeki.

Untuk saat ini, cukuplah kami bersyukur dengan adanya Farzan. Mungkin Allah mau saya dan suami belajar lebih banyak dan berlatih lebih giat lagi berperan sebagai orang tua dari Farzan kami.

 

#20.10 Ketika Si Kecil Sakit

Bismillah..

Qadarullah di hari ke-10 Ramadhan kali ini, putra semata wayang sedang diberi rezeki sakit. Mendadak sebelum jam tidur malam tadi, suhu badannya menghangat. Sayangnya termometer sedang dalm kondisi habis baterai karena sering dijadikan mainan. 

Padahal, Si Ayah juga sedang dalam kondisi kurang fit. Sejak jam berbuka puasa tadi mengeluh sedikit pusing dan kurang enak badan. Alhasil, selepas makan hanya berbaring saja di kasur.

Sekitar pukul setengah sebelas malam aku terbangun. Kondisi di luar hujan masih turun, belum lagi reda namun sudah tidak selebat sore tadi. Aku coba cek suhu badan Farzan, ternyata makin panas. Meski memang untuk sementara masih pakai ‘tanganmeter’ bukan termometer, tapi feeling seorang ibu berkata ini sudah demam.

Biasanya langkah pertama yang akan dilakukan ketika tahu Si Kecil menjelang demam adalah menawarkan lebih sering air putih. Ketika suhu tubuh meningkat, asupan cairan terutama air putih bisa membantu menstabilkan suhu tubuh. Bahkan, kondisi suhu tubuh yang meningkat salah satu penyebabnya adalah dehidrasi atau kurang cairan.

Langkah selanjutnya adalah memberikan suplemen imun boooster, biasanya Farzan minum yang merk dagang Imboost Kids sirup. Diminum 5ml per sekali minum. Tidak diminum secara rutin layaknya obat/vitamin, tapi hanya sesekali untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

Berikutnya adalah mengusap bagian yang sakit sambil membacakan doa. Berhubung Farzan tadi agak demam, lalu disusul dengan muntah lumayan banyak, mungkin masuk angin. Aku pegang bagian dada dan kepala sambil membacakan surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas.

Alhamdulillah, setelah dibersihkan seluruh badan dari bekas muntah dan berganti baju, sekarang Farzan sudah tidur kembali. Alhamdulillah, meski badannya kurang enak badan, Farzan masih merespon dengan normal, tidak seperti sedang sakit. Masih ada celotehnya menanggapi ini dan itu. Sebuah pertanda baik setidaknya untuk malam ini.

Syafakallah Farzan.

La ba’sa thohurun insya allah..