Mari Kita Bicara, Cinta (End)

<< cerita sebelumnya

Penyapihan, menjadi sebuah fase yang harus dilalui setelah fase hamil, melahirkan, dan menyusui. Seperti perintah yang telah diturunkan olehNya, pasti ada makna dibalik angka dua. Sebagai manusia kita hanya bisa berikhtiar, berusaha semaksimal mungkin menjalankan kehidupan sesuai dengan anjuran-Nya. Termasuk dalam hal ini soal penyapihan.

Menyapih adalah perintah yang datang untuk sang ibu, bukan sang anak. Membiarkan menanti anak menyapih dirinya sendiri tanpa adanya upaya dari ibu (juga ayah) sebaiknya tidak dilakukan. Berikhtiarlah dahulu, pasrahkan hasilnya pada yang Maha Kuasa. Tepat, lebih cepat, ataukah lebih lambat dari usia dua, pasrahkan saja.

Konsisten. Sebuah kata kunci sederhana yang sangat berpengaruh pada proses penyapihan. Siapkan hati, bulatkan tekad, bahwa ini adalah perintah, bahwa proses ini dilakukan bukan pertanda tak lagi cinta, justru karena kita cinta. Tegas bukan berarti tega secara tiba-tiba. Seorang ustadz bahkan menyebutkan, berhati-hatilah ketika melakukan penyapihan, jangan sampai menyakiti hati sang anak. Memutus paksa secara tiba-tiba bisa mencederai hatinya.

Oleh karena itu, semua hal butuh proses, termasuk soal menyapih. Jika menargetkan akan menyapih anak ketika usianya dua tahun, maka kurangi frekuensi menyusu sedikit demi sedikit bahkan 6 bulan sebelum usianya 2 tahun, atau sekitar usia 18 bulan. Bila awalnya frekuensi menyusui adalah 5x sehari, perlahan kurangi menjadi 4x sehari, lalu 3x sehari, 2x sehari, hingga hanya malam hari saja atau siang hari saja.

Meski nampaknya anak belum bisa bicara dengan jelas, namun sebenarnya mereka sudah bisa diajak untuk berdialog dari hati ke hati. Mereka bisa mencerna meski sedikit apa yang kita sampaikan. Sampaikan secara berulang bahwa kelak ketika 2 tahun usianya, kegiatan menyusui ini akan selesai.  Sampaikan dengan lemah lembut alasannya, bahwa ia sudah semakin bertumbuh besar, semakin fasih berbicara, sehingga khawatir ada aurat ibunya yang akan terceritakan ke luar. Sampaikan bahwa dengan selesainya menyusui, ia akan belajar lebih banyak hal : belajar soal kemandirian, belajar soal menahan keinginan, belajar soal arti cinta dalam bentuk lain. Sampaikan bahwa kita sebagai ibunya tetap menyayanginya.

Yakinlah, yang kita lakukan tetap atas dasar cinta, dan tetap dengan cinta. Tidak perlu memusingkan istilah-istilah yang ada, fokus saja pada kebaikan di masa yang akan datang.

Mari Kita Bicara, Cinta (Part 3)

“Anakku menangis, terisak-isak, tersedu-sedu. Haruskah kubiarkan, atau kuberikan sesuai permintaannya?”

begitu tanyaku pada sebuah grup komunitas para ibu. Berharap dengan menumpahkan segala rasa bisa memberikan sedikit solusi. “Biarin aja Mba, biasanya enggak akan lama. Harus ditegain memang, sabar aja nanti lama-lama terbiasa,” begitu katanya. Kutahan-tahan emosiku, supaya aku tetap tenang, tidak marah, tidak berteriak, tidak menyerah.

Malam kedua, ketiga, keempat, terlewati. Masih dengan jeritan dan tangisan, namun frekuensi dan durasinya mulai berkurang. Sepertinya ia mulai menyerah. Menyadari bahwa keputusan menyapih sudah bulat untuknya. Sang ayah sementara waktu masih menjadi teman tidurnya. Kami tidur terpisah selama proses penyapihan ini.

Perjuangan dan usaha untuk menyapih tidak hanya dilakukan ketika malam hari. Di siang hari, ikhtiar yang aku lakukan adalah melakukan pendekatan lebih kepada putraku. Kebetulan ketika itu aku belum mulai lagi berjualan online, sehingga aku bisa fokus untuk masa penyapihan ini. Aku mengajaknya bermain mulai dari pagi hingga sore hari. Bukan hanya satu, tapi bahkan bisa lima kegiatan sekaligus tanpa jeda. Aku benar-benar fokus menemaninya. Membaca buku, membuat balon sabun, berjalan-jalan ke luar sekitar rumah, mendengarkannya bercerita soal ini dan itu, melompat-lompat, dan masih banyak yang lainnya. Tujuannya adalah agar putraku tahu, tidak menyusu lagi bukan berarti aku tidak menyayanginya. Aku tetap sayang, aku tetap ada untuknya.

Saran dari seorang teman ketika proses menyapih, jangan ragu-ragu untuk mengobral kata-kata sayang. Berulang-ulang aku katakan pada putraku, “Bunda sayang sama Farzan. Farzan anak baik. Farzan hebat. Enggak mimik lagi bukan karena Bunda marah ya. Tapi Bunda malu kalau kelihatan sama Farzan. Kan Farzan sudah besar sekarang.” Sambil berkata demikian sambil kuciumi, kupeluk, dan kugendong lebih sering dari biasanya.

Kurang lebih setelah satu minggu, tidak ada lagi tangisan, jeritan, isakan penuh iba meminta ASI ketika menjelang tidur malam. Untuk menyusui di siang hari, pernah beberapa kali aku tawari putraku menyusu supaya ia bisa tidur siang sebentar saja.

Sepertinya proses penyapihan ini sudah selesai. Kegiatan menyusui berhenti total baik malam dan siang hari kira-kira di minggu kedua sejak proses penyapihan pertama kali. Pada awalnya kusangka akan memakan waktu dalam hitungan bulan, nyatanya hanya sekitar seminggu proses penuh drama kami lalui.                                                    .

Mari Kita Bicara, Cinta (Part 2)

23 bulan berlalu sejak ia lahir ke dunia. Lalu kini tiba saatnya aku harus membuat sebuah keputusan besar. Aku harus memilih satu di antara dua pilihan: berhenti atau melanjutkan. Setelah hampir dua tahun bersama menjalani ritual syahdu hanya antara aku dan dia, kini aku tengah dilanda kegalauan yang teramat sangat.

Semua berawal dari rasa tidak nyaman ketika waktu tidur di malam hari. Ketidaknyamanan paling terasa ketika frekuensi terbangun-menyusui-tertidur-terbangun-menyusui-tertidur terjadi lebih sering dari biasanya. Kualitas tidurku sebagai ibunya, maupun putraku jauh dari kata baik. Emosi negatif lebih sering terasa karena harus terbangun ketika mata baru saja terpejam. Efeknya bahkan hingga siang harinya, tidak jarang kesabaranku seperti habis lebih cepat.

Kemungkinan besar produksi ASI-ku memang sudah tidak lagi sebanyak dulu sehingga ia tidak puas menyusu dan masih merasa lapar hingga terbangun di tengah malam. Hipotesa lainnya yang kusangka adalah putraku hanya sekedar mencari kenyamanan. Bisa jadi ia mencari-cari puting bukan karena ia haus atau lapar, melainkan agar mendapatkan rasa aman dan nyaman dengan bertengger di dada ibunya.

Percobaan penyapihan di malam pertama siap dilakukan. Ketika tiba waktunya untuk tidur, suamiku yang standby mengalihkan perhatian putraku. Suamiku bertugas menggendong putraku, menawarkan susu kotak atau segelas air putih, juga membacakan kisah. Harapannya putraku tertidur dan lupa untuk menyusu.

Apa daya, beragam upaya tak lantas membuat putraku lupa. Ia menangis meraung sejadi-jadinya ketika raganya lelah ingin segera tidur, tapi payudara ibunya yang biasanya menjadi teman sebelum tidurnya tak kunjung ia dapatkan. Matanya mengantuk, tapi keinginannya untuk tetap menyusu lebih kuat.

Aku dan suamiku yang telah sepakat melakukan penyapihan ini mencoba bertahan. Suamiku berusaha menghibur putraku yang sedang patah hatinya. Diajaknya putraku tidur dengan mengelus dan menggaruk-garuk bagian punggungnya. Aku memandang penuh haru ketika suamiku membujuk putraku dengan pelukan dan ciuman. Semua itu demi putraku segera lelap tanpa harus menyusu terlebih dulu. Betapa peran ayah sangat penting ketika proses penyapihan ini.

Dua jam berlalu, ternyata tak lekas membuat putraku menyerah. Masih saja ia setia dengan tangisannya. Terlihat jelas di mataku ia mengiba dengan tatapan penuh harap. Pikirnya, mungkin aku akan mengubah pendirianku dan memberikannya kesempatan menyusui lagi. Malam makin larut namun keadaan tak berubah menjadi lebih tenang. Jeritan berubah menjadi isakan yang meratap. Sungguh menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Layaknya seorang pecinta yang kehilangan kekasih. Pilu, sakit yang teramat.

Haruskah kubiarkan, atau kuberikan sesuai permintaannya?

Mulanya aku telah bulat tekad. Namun kini rasanya aku sedang berada di tengah kebimbangan yang besar.

Little Bird

Aku hanyalah seekor burung kecil, yang belajar untuk mengepakkan sayapku.
Mencoba terbang melintasi langit, memberi kabar pada dunia bahwa aku bisa terbang! Mungkin sayapku kecilku ini masih rapuh.
Tapi lihatlah, suatu saat nanti akan aku tunjukkan pada mereka, bahwa melintasi samudra pun aku mampu!

Aku hanyalah seekor burung kecil, yang masih bergantung pada indukku untuk memenuhi kebutuhan hidupku.
Yang aku tahu bila tiba waktunya makan, aku harus kembali pada sarangku.
Dengan makanan yang kudapat akan semakin meguatkan kepakan sayapku.

Aku hanyalah seekor burung kecil, yang sering kali diremehkan oleh para burung besar. Kata mereka aku terlalu kecil untuk terbang bebas.
Mereka bilang aku tidak akan mampu terbang melebihi jarak tempuh 15 meter.

Aku memang hanyalah seekor burung kecil.
Tubuhku memang kecil, tapi tidak semangatku.
Kobaran semangatku melebihi ukuran tubuh burung-burung besar itu.
Terserah mereka bilang aku apa, tapi aku yakin aku bisa melewati samudra itu, bahkan mengelilingi dunia ini.
Yaa… meskipun memang bukan saat ini.

Aku memang hanyalah seeokr burung kecil.
Kedua kakiku masih rapuh untuk menopang segala keinginanku.
Sayapku belum cukup kuat untuk membawaku terbang bebas sesuai keinginanku.
Tapi lihatlah, aku berani mengatakan aku mampu melewati samudra dan mengelilingi dunia.
Apakah burung-burung besar itu mampu berkata demikian?
Yang mereka tahu hanyalah menjatuhkan mentalku.
Mereka takut tersaingi olehku yang hanyalah –seekor burung kecil- ini.

Aku yakin suatu saat nanti dunia akan berdecak kagum dan berkata,
Seekor burung kecil itu telah tumbuh menjadi seekor burung dewasa yang perkasa .”

My Ex

Hani terhenyak. Jantungnya berdegup lebih cepat daripada biasanya. Suasana hatinya mendadak berubah. Riuhnya suasana di dalam bis pariwisata sewaan itu tidak lantas membuatnya lupa dengan apa yang baru saja dibacanya. Sebaris kalimat dalam pesan singkat dari seseorang yang sedang dekat dengannya beberapa waktu terakhir, menjadi shock therapy di penghujung sore itu.

Rangkaian peristiwa yang telah lalu terpaksa berputar di kepala Hani. Ia masih ingat betul bagaimana awal mula mereka saling kenal. Okta namanya, senior Hani ketika SMA dulu. Okta dan Hani terpaut tiga tahun angkatan. Okta baru saja lulus ketika Hani baru menyicip dunia putih abu-abu. Mereka tidak sengaja kenal akibat Hani salah menyimpan satu digit nomor telepon seniornya yang lain, Ara namanya. Alih-alih menghubungi Ara, Hani justru tersambung dengan Okta. Ariania Dewi atau Ara biasa teman-temannya memanggil adalah seorang siswi ketua ekstrakulikuler yang Hani ikuti. Sejak saat itu, Hani dan Okta justru menjadi sering berinteraksi.

Tak ada curiga, karena Hani menganggap Okta layaknya seorang kakak, seorang sahabat yang selama ini memang Hani idam-idamkan. Hani yang polos, ia mengira semua adalah wajar. Ketika mereka membuat janji untuk bertemu sepulang sekolah, hanya untuk makan dan saling tukar cerita. Jaman itu belum booming aplikasi perpesanan online. Interaksi lebih sering lewat sms dan telepon.

Buat Hani yang belum pernah punya hubungan sedekat ini sebelumnya dengan siapapun, ia pikir lumrah saja ketika dua orang teman bertemu dan saling berbagi. Hingga suatu ketika terbersit pikiran Hani bertanya, apa hubungan Okta dan Ara sampai nomor handphone bisa sangat mirip.

“She is my ex-girlfriend”, begitu isi pesan singkat yang Hani terima di penghujung sore itu.

Sebaris pesan yang membuat pening kepala Hani. Sesuatu yang buat Hani tak masuk akal. Sebuah dunia baru yang terasa asing namun ternyata begitu dekat, siap menanti di depannya. Ternyata selama ini semua adalah kesalahpahaman. Sungguh Hani tak akan dilanda kebingungan yang sangat, andaikan bukan seorang Oktaviani Putri yang mengirimkan pesan tersebut.

Hingga sebaris pesan lainnya datang, karena Hani tak kunjung membalas pesan sebelumnya, “Kamu gak papa kan? I think I wanna be yours. Will you?”

Mamalova dan Buku (1)

Kebetulan, 23 April lalu ternyata adalah Hari Buku Sedunia. Saya jadi terinspirasi untuk berbagi pengalaman soal mengenalkan buku kepada anak. Saat ini, saya memiliki seorang putra berusia 2,5 tahun, Farzan namanya. Alhamdulillah, Farzan punya ketertarikan terhadap buku yang cukup baik menurut saya. Banyak perkembangan positif yang saya perhatikan, terutama perkembangan bahasa. Menurut saya karena Farzan sudah terbiasa dengan buku sejak usia di bawah 2 tahun.

Buku pertama Farzan adalah sebuah buku bantal berjudul Aku Naik Haji. Buku yang didapatkan gratis, sebagai hadiah ketika saya mengikuti sebuah kelas persiapan edukasi MPASI. Waktu itu usia Farzan baru 2 bulan. Jujur saja, ketika itu saya belum sadar, bahwa mengenalkan buku pada anak seharusnya dilakukan sejak dini. Hingga usia Farzan mendekati 1 tahun, saya masih belum tergerak membelikan buku khusus untuk Farzan.

Sampai suatu ketika, salah seorang teman di sosial media mempromosikan aneka buku anak, dengan harga yang cukup wow buat saya. Buku-buku paketan dengan harga premium. Pembeliannya bahkan dibuatkan sistem arisan demi meringankan beban pembeli. Saya termasuk yang kepincut waktu itu. Kepincut dan kesentil tepatnya dengan materi iklan yang disampaikan. Sudahkah membelikan buku menjadi agenda prioritas dalam keluarga kami?

Berhubung untuk memesan paket buku balita premium tersebut belum menjadi agenda, saya mengajak suami pergi ke salah satu toko buku terkenal. Saat itu saya masih belum paham, buku seperti apa sebenarnya yang cocok untuk Farzan. Saya hanya mengambil buku secara acak. Mencari tema seputar kisah Nabi dan yang penting bergambar dan berwarna. Ambil, bayar, kemudian pulang. Kisah Seru Nabi Muhammad jadi buku kedua Farzan.

Sebenarnya, keinginan untuk ikut ambil bagian dalam arisan buku anak premium itu ada, tapi sayangnya terbentur pada perizinan suami. Suami kurang setuju dengan sistem arisan. Menurut beliau, siapa yang bisa menjamin semua peserta arisan amanah sampai akhir periode, atau bagaimana jika ketika tiba giliran kita, barangnya sudah tidak lagi diproduksi? Suami bilang kalau mau beli tunai. Tapi, ketika itu hati saya masih belum plong mengeluarkan uang yang tidak sedikit, lebih baik ikut arisan supaya tidak berat. Tapi suami tetap teguh pendirian. Okelah, mentok minta izin ikut arisan, akhirnya solusinya adalah kami membuat tabungan berjangka di salah satu bank syariah. Tujuannya agar ketika selesai periodenya satu tahun ke depan, kami punya uang tunai untuk membeli bukunya secara tunai.

Hingga akhirnya tibalah masa jatuh tempo……

Bersambung ke part 2

Daya Ingat

Jangan remehkan daya ingat anak kecil, balita terutama. Otaknya yang masih berkembang, layaknya spons yang menyerap dengan cepat. Seperti kejadian oagi tadi, di depan ruang kelas tempat Farzan biasa mengaji.

Jam di dinding menunjukkan pukul 10.00, waktunya sesi kelas mengaji Farzan disudahi, berganti giliran dengan kelas lain. Farzan yang sebenarnya tidak benar-benar mengikuti kegiatan pembelajaran,  aku ajak untuk pulang.

 

Ketika hendak memakai sepatu, tiba-tiba Farzan berceletuk,  “Eh, kayak sendal Umi.” Aku merasa sedikit heran, apa memang ada temanku di sekitar sini?  Umi adalah sebutan Farzan kepada temanku yang sempat menjadi tetangga persis di sebelah rumah. Tapi sejak 2 bulan yang lalu sudah pindah.

 

Mataku berkeliling, mencoba mengonfirmasi pernyataan Farzan sebelumnya, kalau-kalau benar ada temanku dan anaknya yang hampir sebaya dengan Farzan ada di sekitar sini. Ternyata benar! Di dalam ruangan kelas mengaji Farzan sebelumnya ternyata ada temanku dan anaknya yang sudah mulai mengikuti sesi kelas mengajinya.

 

Takjub! Bahkan aku saja tidak tahu seperti apa sendal temanku itu. Tapi nyatanya, Farzan justru masih ingat, termasuk sandal anak temanku yang dulu biasa jadi teman berbermainnya. Masya allah, 2,5 tahun usianya, masih murni isi kepalanya, masih tajam ingatannya, bahkan untuk sesuatu hal yang remeh tapi detil seperti sandal.

 

Bagiku yang sudah dewasa, mungkin mengingat warna ataupun tipe sandal bukan menjadi prioritad utama untuk di simpan di salah satu sudut ingatan. Berbeda dengan anak balita yang seperti spons,  akan menyerap informasi apapun yang ada di sekelilingnya.

 

Aku pun berfikir, pantas saja banyak bayi yang hafal quran 30 juz sejak balita, biasanya berasa dari keluarga yang memiliki interaksi dengan Ajl-Quran cukup intens

Kenapa Aku Menulis

Ramadhan tinggal menghitung hari,  tiba-tiba terbersit keinginan untuk mengintip lagi isi buku Ramadhan Happy ala Mahmudah (RHAM). Sebuah buku yang aku tulis bersama para ibu muda lainnya di sebuah komunitas bernama Shalihah Motherhood. Buku yang terbit pada Ramadhan tahun lalu ini adalah buku kedua yang diterbitkan secara indi. Buku pertama berjudul Love Story of Birthing (LSOB),  berisi kisah perjuangan saat hamil dan melahirkan si buah hati.

“Maka nikmat tuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?” 

Salah satu dream list yang pernah kutulis adalah menerbitkan bukuku sendiri. Alhamdulillah, di tahun 2015 kesempatan untuk mewujudkannya datang. Berawal dari keinginan anggota komunitas untuk berbagi kisah perjuangan para ibu ketika hamil dan melahirkan kepada para ibu lainnya melalui buku. Tim redaksi disusun, kisah pun ditulis, proses penyusunan buku pun dimulai. Rasanya luar biasa berkolaborasi bersama para ibu lainnya menerbitkan buku secara indi. My dream comes true. =)

Di buku pertama aku berbagi kisah kehamilanku yang pertama. Sekelumit cerita ketika tiba-tiba aku diserang kontraksi palsu, di dalam stasiun kereta api menjelang waktu Maghrib. Seorang diri. Aku juga berbagi kisah ketika hamil aku ikut berjuang mendampingi suamiku menyelesaikan studinya. Berbagi cerita tentang posisi janin yang melintang/sungsang hingga akhirnya harus melalui section caesaria.

Di buku kedua, aku berbagi kisah bagaimana aku melewati Ramadhan sebagai seorang ibu hamil. Sebenarnya buku kedua ini bukanlah murni buku kumpulan kisah seperti buku yang pertama. Di buku RHAM ini terdapat juga materi-materi tips seputar Ramadhan yang bisa dibaca oleh para ibu hamil dan menyusui.

Kenapa aku menulis? Aku menulis untuk berbagi. Aku menulis untuk merekam sejarah dan kenangan. Aku menulis untuk memberikan semangat. Aku menulis karena lewat tulisan kita dikenang. Nyawa bisa hilang, tapi karya akan tetap ada. Aku berharap lewat tulisan yang bermanfaat, akan tetap mengalir pahala meski aku sudah tak lagi ada.

Sempurna? Jauh, masih banyak yang perlu dipelajari. Mengikuti 30 Days Writing Challange menjadi salah satu caraku juga agar tetap bisa menulis. Paksaan dari luar seringkali lebih ampuh membuat aku tetap menulis.

Tetaplah menulis. =)

 

Other Side

OTHER SIDE
of this.

Suasana di ruangan 5x5m itu cukup riuh. Jika dihitung mungkin sekitar 30 orang laki-laki dan perempuan. Dua orang wanita yang duduk di bagian depan ruangan sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Seorang kelihatan sedang mencatat,  seorang lainnya sibuk mengambil perhatian para audiens dengan bersuara lantang namun berirama. Yang terakhir memakai hijab lebar berwarna hijau.

Di sebelahku, seorang laki-laki sedang asik dengan kertas dan pensilnya. Sesekali kepalanya menengadah, melihat pada dua orang wanita di depan. Kelihatannya dia menikmati sekali kegiatan itu. Sampai kemudian salah satu wanita berhijab hijau lebar datang menghampirinya.

Wanita itu tampak menegur dengan lembut laki-laki di sebelahku yang sedang asyik dalam dunianya sendiri. Dari dua matanya terlihat sepertinya dia sedang tersenyum. Sayang aku tidak bisa melihat dengan jelas lengkungan di bibirnya,  karena dia menggunakan penutup berwarna hitam pada wajahnya.

Aku memalingkan wajah pada sekitar. Ada yang sedang berlari-lari mengitari ruangan. Ada yang cuma duduk diam tanpa suara seperti aku. Ada yang nampak ingin keluar ruangan, tapi diminta masuk kembali.

Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari laki-laki yang duduk di sebelahku. Hei,  dia menangis. Ada apa gerangan? Wanita berhijab lebar tampak mencoba menenangkan laki-laki itu. Aku tak habis pikir, kenapa dia menangis, padahal kelihatannya wanita ini baik. Tak lama seorang wanita lainnya muncul dari balik pintu. Mengajak bicara laki-laki itu, mengatakan bahwa semua baik-baik saja.

Aku membuka tasku. Mencari sebuah benda berbungkus plastik coklat. Aha!  Ketemu.

“Mau gak?” kataku padanya. Semoga dia tidak menangis lagi.